Wana Wisata Pendakian Cikuray Kini Resmi Dikelola Profesional

post-img

launching-cikuray-600x800

Infophrigarut ,- Perum Perhutani KPH Garut, telah membuka secara resmi kawasan hutan lindung Gunung Cikuray untuk pendakian. pendakian tersebut dibuka untuk umum  karena hampir setiap minggunya para pendaki terus memadati Cikuray. Sehingga sering kali memunculkan masalah yang mendesak untuk ditangani dengan benar.

Berdasarkan hal tersebut pada , Kamis, 7 April 2016, lalu Gunung Cikuray  mulai dicoba untuk secara resmi menerima para pendaki dengan pengelolaan yang juga diakui oleh Perhutani.

Peresmian pengelolaan wana wisata Gunung Cikuray ini dilakukan karena munculnya dorongan serta inisiatif kelompok masyarakat sekitar yang menginginkan wisata pendakian Gunung Cikuray ini mendapatkan pengakuan resmi dari pihak pemegang otoritas kawasan tersebut.

Kelompok masyarakat pendorong peresmian wana wisata juga sebelumnya telah membentuk wadah dengan nama  Kelompok Tani Hutan (KTH) Wisata Bakti Wilaku. Nantinya, KTH ini juga yang akan mencoba mengelola Wana Wisata Gunung Cikuray secara profesional.

Selain Jalur Pemancar, yang sudah lama digunakan sebagai jalur pendakian Gunung Cikuray, KTH ini juga merangkul jalur-jalur lain, seperti di Bayongbong, Cikajang, dan jalur lainnya di Cilawu. Ditemui di Stasiun Pemancar, Ketua KTH Wisata Bakti Wilaku, Kang Yayan, berharap semua jalur dapat diakui legalitasnya dan memberi kontribusi, baik pada masyarkat sekitar, maupun pada Perum Perhutani sebagai instansi yang berwenang di kawasan Gunung Cikuray.

Mengenai tarif resmi tiket masuk kawasan Gunung Cikuray, kang Yayan menambahkan bahwa tiket ini akan dipungut sebesar Rp15.000,-. Uang tiket ini sudah termasuk asuransi, pengembangan fasilitas, selain juga sebagai pemasukan bagi Perhutani dan KTH sebagai pengelola. Kang Yayan menambahkan, uang tiket ini juga diproyeksikan untuk kontribusi pada masyarakat desa sekitar kaki gunung yang dilewati para pendaki. Dalam waktu dekat, pengelola juga berencana membuka sebuah camping ground di area pos pendaki Jalur Pemancar.

Pemungutan tiket sebesar Rp10.000,- oleh PT Perkebunan Nusantara juga masih ada (sehingga untuk masuk Jalur Pemancar dibutuhkan uang sedikitnya Rp25.000,-). Permasalahan sampah, pungutan liar, dan masalah-masalah lain juga masih terasa, dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan peresmian wana wisata gunung cikuray ini. Walaupun demikian, upaya legalisasi ini patut mendapat apresiasi karena dengan diakuinya jalur pendakian ini, diharapkan permasalahan tadi mendapat solusi yang juga legal dan efektif.

Memang, masih banyak konflik yang belum terselesaikan di Gunung Cikuray. Tapi dengan adanya perhatian dari Perhutani, serta masyarakat sekitar yang membentuk kelompok pengelolaan, tim Jelajah Garut berharap Gunung Cikuray dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata yang berkelanjutan; yang tidak hanya meninggalkan sampah, tapi juga berkontribusi pada ekonomi warga dan ekosistem Gunung Cikuray.***Dikutif dari jelajahgarut.com

1 Comment

  1. Web Hosting
    Juli 28, 2017 6:23 am Reply

    Terlepas dari unsur mistis, seyogyanya memang sebagai makhluk beragama, tentu saja kita percaya dengan adanya dunia lain. Dengan segala keindahan panorama alam dan juga jalur pendakian yang menantang, membuat gunung cikuray termasuk gunung favorite bagi para pendaki, meskipun banyak dari mereka yang mengaku bukan kala pertama kali mendaki gunung ini.

Leave a reply